Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cewek Yang Kutemui Di Toserba [Vol 1 Chapter 1.2]

No One Cared About Me, But She Has. I Met Her At A Convenience Store, Then She Makes My Every Day More Fun Bahasa Indonesia




Chapter 1.2: Reuni


Setelah peristiwa mendebarkan di mana aku mandi di rumah seorang gadis, aku berganti pakaian dengan jersey biru laut yang dulunya dipakai oleh ayah Hoshimiya di ruang ganti.


Baunya sangat enak.  Ini tidak seperti bau orang tua.  Baunya seperti pakaian yang sudah lama disimpan di dalam lemari (bau jamur, mungkin?)


Menurut Hoshimiya, baju ayahnya tercampur dengan barang-barang miliknya saat mereka pindahan.


Untungnya, aku diizinkan untuk meminjamnya malam ini.


Setelah menyeka kepalaku, aku meninggalkan kamar mandi dan kembali ke kamar tempat Hoshimiya berada.


"Terima kasih untuk kamar mandinya."


"Ya.  Sekarang giliranku." kata Hoshimiya dengan nyaman, dan menuju kamar mandi tanpa berpikir dua kali.


............Mandi?  Dia akan mandi?  Maksudku, tentu saja dia akan mandi, tapi ada seorang pria di sini, bukan?  Apalagi aku bukan pacarnya.


Memang aku adalah teman sekelasnya, tapi kami belum pernah benar-benar mengobrol sebelumnya.


Zertz.....


Tak lama kemudian, aku mendengar suara shower.


".............."


Aku tidak yakin apakah ini berarti dia tidak menganggapku sebagai lawan jenis, atau apakah dia hanya mempercayaiku.  .....Tapi mungkin yang pertama.


Aku pernah mendengar kekasih masa kecilku berkata, "Riku-chan, kamu sangat imut, seperti anak anjing!" jadi mungkin saja aku adalah makhluk yang tidak dikenali wanita sebagai manusia.


"-----Aha!"


Jika mereka melihatku sebagai anjing dan bukan sebagai manusia, maka seharusnya tidak ada masalah bagiku untuk mandi bareng Hoshinomiya di dalam bak mandi, kan?!


Aku yakin dia hanya akan berkata, "Kyaaa, itu sangat lucu!" lalu aku juga yakin bahwa dia akan menepuk kepalaku dan berkata, "Kyaa, lucunya!" tapi mungkin juga dia akan memukuliku dan menelepon polisi.


Ding dong.


Interkom berdering di dalam ruangan.  Ada seorang pengunjung?  Pada jam segini?


"Gimana, nih.......?"


Aku ingin tahu apakah tidak apa-apa jika aku menjawabnya.  Tapi jika itu adalah kenalan Hoshimiya, itu akan merepotkan.


Tapi aku juga tidak bisa mengabaikannya.  Kalau begitu, haruskah aku memanggil Hoshimiya?


"Tidak, tidak, itu tidak mungkin.  Mustahil aku bisa masuk ke dalam di mana terdapat seorang gadis sedang mandi."


Ding dong.


Itu berdering lagi.


Maaf, tapi kau harus kembali lagi lain kali.


Aku tidak bisa membantumu sekarang.


Ding dong. Ding dong. Ding dong. Ding dong. Ding dong.


Ding dong. Ding dong. Ding dong. Ding dong.  Ding dong.


"Berisik kambing!!!"


Mereka berdering sangat keras!  Sial, aku harus keluar dari sini!


Aku menuju pintu depan dan membukanya perlahan.


"Ayana!  ------Eh, siapa?"


Itu dia, seorang wanita dengan rambut acak-acakan.  Dia memiliki lingkaran hitam yang menggelikan di bawah matanya.  Dia tampak seperti seorang mahasiswi, atau mungkin sedikit lebih tua......?  Dia mengenakan kaus longgar dan celana pendek, sepasang pakaian santai.  Penampilannya secara keseluruhan sangat tidak sehat, tetapi wajahnya sangat berkembang sehingga aku akan menyebutnya cantik.


"Aku Riku Kuromine."


"Ini kamar Ayana, kan?  ......Oh, apakah kamu pacarnya?"


"Bukan."


"Lalu siapa?  Pencuri?"


"Apakah aku terlihat mencurigakan bagimu?  Aku, yang tampak tidak berbahaya bagi manusia ataupun hewan?  Aku teman sekelas Hoshimiya."


"Hmm..."


Wanita misterius itu menatapku dari kepala hingga ujung kaki dengan tatapan curiga.


"Kenapa orang yang cuma teman sekelasnya tinggal di kamar seorang gadis selarut ini?"


"......Aku orang kaburan."


"Kabur dari rumah?"


Aku tidak bisa untuk tidak berbohong.  Jadi, aku tidak punya pilihan selain melanjutkan.


"Ya.  Aku sedikit bertengkar dengan keluargaku dan ...... menjadi putus asa kemudian lari ke pegunungan.  Aku mampir ke toserba dan kebetulan bertemu dengan Hoshimiya, lalu dia setuju untuk membiarkanku tinggal di rumahnya."


"Heh.  Ayana, dia memang baik hati seperti biasanya, bukan?  Tapi dia kurang berhati-hati."


"Kau benar."


"......Apakah kamu akan melakukannya?"


"Hah?"


Wanita misterius itu tersenyum padaku.


"Kamu tahu apa yang kubicarakan, kan?  Yang itu.  Bagaimana mungkin tidak akan terjadi apa-apa ketika pria dan wanita yang normal sedang berada di bawah atap yang sama.....?"


"Kau tiba-tiba mengubah karaktermu, bukan?"


Wanita misterius itu menyeringai.  Aku mencium bau-bau cabul.  ......Tidak, terlalu dini untuk mengambil keputusan.


"Oh, namaku Chiharu Mondo.  Pekerjaanku adalah artist ero manga."


Kau mengatakannya dengan penuh kebanggaan, bukan?!  Tidak, itu memang bagus untuk merasa bangga dengan apa yang kau lakukan.


"Jangan ragu untuk memanggilku 'Monmon-chan'!"


"Apakah itu cuma aku, atau apakah itu memang terdengar terlalu kotor?"


"Apa?  Aku artis ero manga, Monmon-chan.  Aku tidak suka yah, Riku-kun mesum!"


"Pulang sana."


Monko, lah.  Monmon, lah.  Ditambah lagi ero manga, lah ........ ya, itu tidak bagus, dalam banyak hal.


"Hei, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu."


"Apa itu?"


"Ketika kamu melakukannya, bisakah kamu melakukannya sedekat mungkin ke dinding?  Aku tinggal di sebelah."


Huh?


Ini mah soal seks!


"Pulang sana!"


Sudah kuduga.  Aku menyesal karena telat menyadarinya.


Orang ini lebih tangguh daripada perampok toserba......!


"Sebuah kisah cinta murni antara seorang anak kaburan dan seorang gadis di bawah atap yang sama.  Dan akhirnya ...... oh, tidak, aku mendapat kilasan inspirasi.  Aku punya ide untuk ceritaku!  Maaf, Riku-kun, tapi aku akan pulang sekarang!"


"Terus apa tujuanmu ke sini......?"


"Hmm?  Aku mendengar teriakan Ayana-chan, jadi aku datang untuk memeriksanya.  Sampai jumpa."


Dengan lambaian tangannya, Chiharu Mondo menghilang ke kamar sebelah.


Gila!  Dia seperti badai!


Bagaimana bisa dia dengan mudahnya mengguncangku, pria yang mampu memutarbalikkan perampok toserba dari depan?


***


"Itu pasti sulit.  Chiharu-san, dia pasti orang yang sangat aneh, kan?"


"Bukan cuma aneh, tapi super aneh.  Dia meninggalkan dampak yang kuat dalam waktu singkat."


Hoshimiya, yang selesai mandi, tersenyum masam dan membalas, "Haha......."


Sekarang Hoshimiya mengenakan piyama merah muda.  Noda air mata di pipinya sudah hilang, dan rambutnya, yang sedang dikeringkan dengan pengering rambut, berkilau dan memantulkan cahaya.


Mungkin itu karena fakta bahwa dia telah melepas kacamatanya, tapi wajah Hoshimiya yang terdefinisi dengan baik terlihat jelas.


"Maaf.  Kau tidak suka jika aku dikira sebagai pacarmu, kan?"


"Aku tidak membencinya.  Aku hanya sedikit terkejut."


Aku memberi tahu Hoshimiya apa yang kubicarakan dengan Mondo-san.


Tapi aku tidak memberitahunya tentang yang itu.  Tidak mungkin aku bisa memberitahunya.


"Yah, Kuromine-kun..."


"Yah, Hoshimiya-san."


Posisinya berubah.  Hoshimiya sedang duduk tegak di tempat tidur.  Sedangkan aku duduk di lantai.


"Kamu mau ... tidur di mana?"


"Aku bisa tidur di depan pintu."


"Tidak, kamu tidak bisa melakukan itu.  Kamu harus tidur di tempat yang tepat atau tubuhmu akan sakit."


"Terus, apa yang akan kau lakukan?  Tidur di ranjang itu denganku?"


".............Ya, tidak apa-apa."


"Eh, benarkah?"


Hoshimiya, yang wajahnya semerah bom yang hampir meledak, berbalik dan mulai memainkan rambutnya.  ......Apakah kau adalah gadis yang suka bermain-main?


Aku tidak berpikir itu benar untuk tidur di ranjang yang sama dengan pria yang tidak ada hubungannya denganmu, tidak peduli seberapa besar kau menginginkannya.


Hal pertama yang terlintas dalam pikiranku adalah fakta bahwa gadis ini sedikit pemalu.


Apakah dia benar-benar mengkhawatirkanku dan menyarankan agar kami tidur di ranjang yang sama?


"Kuromine-kun?  Kamu terlalu banyak ...... menatapku-------"


"Ah, maaf."


"Tapi, sungguh, aku ...... aku tidak bermaksud begitu.  Jika kamu mencoba sesuatu yang nakal ...... aku akan benar-benar marah......."


"Jangan khawatir.  Aku tidak punya niat untuk melakukannya.  Aku bersumpah aku tidak akan menyentuh Hoshimiya, apa pun yang terjadi.  Aku bahkan tidak ingin menyentuhmu.  Aku tidak pernah berpikir untuk menyentuh Hoshimiya.  Itu tidak mungkin."


"-----Aku terkejut mendengarmu berkata sebanyak itu."


Tampaknya mengatakannya sebagai pengingat memiliki efek sebaliknya.  Bibir Hoshimiya cemberut karena tidak puas.


"Aku tidak boleh tidur di dekat pintu masuk, kan?  Kalau begitu, aku akan tidur di sini."


"Bukankah itu ...... lantai?"


"Ya."


"Apakah tidak akan sakit?"


"Tidak apa-apa, karpetnya lembut......."


"Yah .... tapi..."


"Apa kau sebegitunya ingin tidur dengan seorang pria?"


"Bisakah kamu berhenti berbicara seolah aku adalah ja*lang?  Aku belum pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya."


"Aku mengerti.  Jadi kau masih perawan."


"Mengapa kamu mengatakannya?!  Padahal aku mencoba membuatnya tidak jelas!"


"Jangan khawatir.  Aku juga masih perjaka."


"Dasar mesum!"


Aku benar-benar dimarahi oleh ....... Hoshimiya.  Aku telah belajar sesuatu dari pertukaran kami sebelumnya.


Hoshimiya itu ... naif.


Sangat mudah untuk membayangkan dari penampilannya yang pendiam saat ini, tetapi sulit untuk percaya mengingat mode galnya di sekolah.


"Yah, aku akan tidur.  Selamat malam."


Aku berbaring di lantai tanpa menunggu jawaban Hoshimiya.


"......Baiklah.  Tapi jangan terlalu memaksakan dirimu."


"Iya."


Hoshimiya mematikan lampu di ruangan itu dan berkata, "Kalau begitu, aku akan mematikan lampunya."


"Selamat malam, Kuromine-kun."


"Selamat malam, Hoshimiya."


Aku mendengar suara futon ditarik di atas tempat tidur.  Dalam kegelapan yang kabur, aku bisa melihat sosok Hoshimiya yang sedang berbaring.


"............"


Aku tidak pernah menyangka kalau aku akan tidur di kamar yang sama dengan Hoshimiya.


Oh, alasan apa yang akan kuberikan pada stasiun kereta?  Aku tidak yakin apakah aku perlu membuat alasan.


Aku sudah ditolak.  Aku bahkan tidak perlu membuat alasan untuk memulainya kembali.


Apa yang harus kulakukan mulai besok?  Aku yakin aku harus menghadapi teman masa kecilku.


Aku tidak tahu wajah seperti apa yang harus kubuat.


Ini hanya tebakanku, tapi karena dia adalah teman masa kecilku, aku tidak yakin apakah aku akan bisa membuat wajah yang sama seperti biasanya ....... aku merasa dia akan memperlakukanku dengan normal seperti yang selalu dia lakukan.  Aku tidak yakin berapa banyak yang akan dapat kulakukan dengan itu.


"Su ....... su....."


Aku bisa mendengarmu tidur nyenyak.  Kau sudah tertidur lelap, bukan?  Oke, aku akan langsung tidur juga.


Tidak ada gunanya memikirkannya sekarang.  Jika kekasih masa kecilku berkata, "Selamat pagi!" aku hanya perlu mengatakan, "Diam!  Dasar wanita sugestif!"


Aku sedang merancang sebuah rencana yang tidak akan pernah bisa kulakukan, dan kesadaranku berangsur-angsur memudar.


***


Alarm di ponselku yang berdering di telingaku membangunkanku.


Meraba-raba mencari ponsel, aku mengambilnya, mematikan alarmnya, dan pada saat yang sama, memeriksa jam.  Saat itu pukul 04:00.


Aku harus bangun lebih awal untuk bersepeda selama tiga jam.  ......Tapi aku mengantuk.


Aku melepas jersey yang kupinjam dari Hoshimiya dan menggantinya dengan seragam yang kupakai sampai tadi malam.


Kupikir tidak akan baik untuk keamanan jika aku pergi tanpa memberitahunya, jadi aku menuju ke arah Hoshimiya, yang sedang tertidur lelap di tempat tidurnya.  .......Aku tidak bermaksud melihat wajah tidurnya, oke?


"......Ayah, ibu......."


Yang mengejutkanku adalah, Hoshimiya menangis dengan air mata dari sudut matanya dan memanggil orang tuanya dengan suara pelan.  .......Kau sangat mencintai orang tuamu, bukan?


Dia bahkan menangis hanya karena membayangkan mereka pergi.


"Hoshimiya."


"......nn, eh?"


Setelah memanggilnya sambil menggoyangkan bahunya dengan lembut, Hoshimiya akhirnya membuka matanya dan menatapku dengan mata kosong.  Sepertinya dia belum menyadari kenyataan.


"Kuromine-kun ...... kenapa kamu ada di rumahku?  Apa ini mimpi?"


"Kau tidak sedang bermimpi.  Kemarin, kau mengizinkanku menginap, bukan?"


Aku terus berbicara, meski merasa agak tidak nyaman.


"Hmm ... benar.  Jam berapa sekarang?


"Jam 4.  Maaf karena membangunkanmu pagi-pagi sekali.  Aku hanya ingin memberitahumu sebelum aku pergi.  Kau harus mengunci pintunya."


"Woah .... selamat pagi."


"Aku tahu itu terlambat, tapi pagi juga."


Tunggu, seperti inikah wajah Hoshimiya ketika dia bangun dari tidur?  Aku mendapat kesan bahwa dia muda dan menggemaskan.


***


Aku menunggu beberapa saat sampai Hoshimiya bangun, dan kemudian diantarnya ke pintu masuk.


Kemudian aku menaiki sepeda dan mulai bersepeda pagi.


Perjalanan tiga jam yang melelahkan.


Aku berkeringat deras dan berjuang melawan angin pagi yang sejuk, ketika aku akhirnya tiba di rumahku.  Itu adalah gedung apartemen 15 lantai.  Rumahku berada di lantai 5 dan memiliki empat kamar tidur.


Aku terus tinggal di sana bahkan setelah keluargaku meninggal.


Rasanya seperti banyak ruang untuk hidup sendiri, tapi aku sudah terbiasa sekarang.


Setelah kembali ke rumah, aku mandi dengan cepat dan berganti kembali ke seragam sekolahku.


Dan kemudian tiba saatnya untuk pergi ke sekolah.


Aku tidak ingin pergi ke sekolah.....


Perasaanku yang sebenarnya bocor.  Tapi aku sekelas dengan Hoshimiya.  Jadi ini akan baik-baik saja.


Namun, aku juga berada di kelas yang sama dengan teman masa kecilku.  Rasanya canggung.


Lalu...


Ding dong.


Yang berdering di ruangan itu bisa jadi merupakan melodi neraka atau sinyal bahwa Grim Reaper telah mengunjungiku.


......Itu hanya suara interkom biasa.  Namun pertanyaannya adalah ... siapa yang menekannya?


Itu adalah kekasih masa kecilku!  Aku tahu secara intuitif.  Jadi, aku tidak ingin menjawabnya.


Tapi aku tidak bisa untuk tidak menjawabnya.  Aku meraih tasku dan menuju pintu depan, menggerakkan kakiku, yang dengan bodohnya mencoba merosot ke lantai.


Aku menelan ludah sekali dan membuka pintu dengan sekali teguk.



"Selamat pagi, Riku-chan!  Ini hari yang indah!"


"............"


Dia menyapaku dengan cara yang benar-benar aktif dan ceria.


Harukaze Yono, tidak salah lagi, dia adalah teman masa kecilku.


Senyumannya yang cerah, yang tampak seperti tidak mengenal kebencian, membuat semua orang yang melihatnya merasa bahagia.


Rambutnya yang ditata indah sebahu berkibar tertiup angin, dan aroma samar bunga tercium di udara, mungkin berasal dari samponya.


Yono mungkin lebih kecil dari rata-rata, tapi kehadirannya kuat dengan suasana yang gemerlap.


Kepribadiannya yang ceria dan baik hati tanpa menyindir.  .......Kurasa tidak ada orang di sekolah yang tidak menyukai Yono.


Yono bergaul dengan semua orang, dan di SMP, dia ....... aku yakin dia sudah populer sejak masih SD.


Aku diperlakukan sebagai bonus bagi Yono.  Aku bahkan disebut kotoran ikan mas.


Aku ingin berada di sisinya bahkan jika harus berperan sebagai orang bodoh.  Itulah aku hingga kemarin.


"Kamu pergi ke mana kemarin?  Aku tidak bisa menghubungimu.  Kamu bahkan tidak ada di rumah."


"Aku pergi untuk suatu urusan kemarin.  Aku meninggalkan ponselku di rumah."


"Urusan?  Urusan macam apa?"


"Rahasia."


Aku tidak bisa mengatakan kepadanya, "Karena Yono mencampakkanku, jadi aku pergi ke gunung untuk bundir!"


Aku tidak bisa mengatakan itu.  Dan sekarang setelah aku memikirkannya, ternyata aku benar-benar idiot.


"Tidak baik menyimpan rahasia dari teman masa kecilmu, tahu!"


"Aku tidak peduli bahkan jika kau berkata begitu.  Maksudku, apakah kau lupa soal kemarin ketika aku menyatakan perasaanku padamu........?"


"Ya, tapi sebagai teman masa kecilmu, aku ingin terus bergaul denganmu."


......Itu terlalu kejam, bukan?  Jika ini adalah web novel, ini akan menjadi peringatan adanya adegan kekejaman dengan label "18+".


Terlebih lagi, Yono tidak mengatakan ini dengan niat jahat.  Aku juga ingin terus bergaul dengannya dengan perasaan yang murni.  Tapi fakta bahwa dia tidak memiliki niat jahat bahkan membuatnya menjadi lebih buruk.......


"Apakah aku salah?"


"..."


"Tapi jika kamu ingin bergaul denganku, itu artinya kamu mau sama aku, kan?  Bahkan jika kita tidak berkencan, Riku-chan dan aku adalah teman masa kecil, dan kita akan selalu bersama, jadi kurasa tidak ada yang salah dengan itu."


Dia sepertinya benar-benar berpikir begitu, dan memiringkan kepalanya dengan rasa ingin tahu.


Aku merasa seperti sedang berhadapan dengan anak TK.  Apakah dia tidak memiliki perasaan cinta atau kasih sayang?


Tapi tetap saja, yang membuatku kecewa adalah, jantungku berdetak lebih cepat dan lebih cepat saat aku di hadapan Yono.


"Nah, Yono.  Kita harus berangkat sekarang."


"Ah, iya!  Cepat!  Kita akan terlambat!"


Seolah tidak terjadi apa-apa, seolah hubungan kami sebelumnya normal, Yono memegang tanganku dan mengajakku berangkat ke sekolah.


Kupikir aku akan membencinya, tapi.....


Rupanya aku masih mencintai kekasih masa kecilku ini, meskipun dia telah mencampakkanku.


***


"Ha ..... kenapa jadi seperti ini."


Kelas pagi.  Aku dikelilingi oleh suasana bising, dan aku memeluk kepalaku di kursi dan meratap.


Alasannya, bagaimanapun, terletak pada Yono.


Ketika kalian berada di kelas yang sama, mau bagaimanapun, naluri manusia akan membuatmu melihat ke arah orang yang kau suka.


Aku, yang duduk di paling belakang dekat jendela, memancarkan aura kegelapan secara penuh.


Tempat duduk Yono adalah yang kedua dari depan di sisi koridor.  Saat jam istirahat, beberapa teman sekelasnya berduyun-duyun ke tempat duduknya.  Bahkan sekarang, tiga anak perempuan sedang berbicara dengan Yono.


Seroang anak laki-laki tampan berambut pendek yang menjadi pusat kelas mendekati Yono dengan senyum sedikit malu-malu di wajahnya.


"Umm, Harukaze-san ... ayo kita pergi ke kantin bersama, oke?"


"Ah, maaf.  Aku berencana menghabiskan waktu bersama Riku-chan."


"Begitu.  ......Oke, aku akan mengundangmu lagi lain kali."


Setelah kecewa, pria tampan berambut pendek itu kembali ke tempat duduknya, tempat di mana teman-temannya berkumpul.


Dalam perjalanan kembali, dia melirikku dan menatapku tidak suka.


Aku tahu bagaimana perasaanmu, tapi akulah yang paling tidak bahagia di sini.


"Ya, mari kita habiskan waktu melihat sesuatu selain Yono."


Jika aku hanya melihat Yono, aku hanya akan merasa sulit.


Perlahan melihat sekeliling kelas, mataku tertuju pada Hoshimiya di tengah kelas.


Hoshimiya sedang mengobrol dengan seorang gadis yang tampak seperti gyaru.


"......Aku tahu itu.  Dia benar-benar berbeda dari mode polosnya tadi malam."


Rambut cokelatnya kini dikuncir kuda, dan wajahnya yang cantik ditutupi dengan riasan yang tidak terlalu mencolok.  Tidak ada kesan memualkan sama sekali.  Dia memiliki atmosfir atau aura yang berkilau, dan dia terlihat seperti gadis kelas atas.  Senyumannya juga terlihat manis ketika dia berbicara.


Tapi dia bekerja paruh waktu di sebuah toserba.


"Apakah ada yang pernah mengaku padanya sebelumnya...?"


Aku telah mendengar orang-orang di kelas berbicara banyak tentang Hoshimiya.


Seingatku, Hoshimiya sudah populer sejak ...... tahun pertama.


Jumlah pria yang tertarik pada Hoshimiya meningkat setiap harinya, dan sekarang dia adalah senior di SMA, dia dikatakan sebagai salah satu gadis paling populer di sekolah.  Yah, tidak mungkin dia tidak populer dengan auranya yang seperti itu.


Namun, Hoshimiya bilang dia tidak pernah memiliki pengalaman soal pengakuan cinta.  .....................Mengapa?


Gadis yang berbicara dengan Hoshimiya - dia juga terlihat seperti gyaru.


Aku tidak tahu siapa namanya.  Aku tidak ingat.  Tapi matanya sangat intens dan menakutkan.


Dia memiliki wajah yang cantik, tetapi matanya yang mengintimidasi memberiku kesan yang menakutkan.  Dia lebih terlihat seperti seorang yankee daripada seorang gyaru.


"Riku-chan!  Apa yang kamu lihat?!"


"Y-Yono!"


Jantungku melompat.  Yono berdiri tepat di sebelahku.


"Kamu telah memperhatikan Ayana-chan dengan saksama, bukan?"


"......T-Terserahku dong mau melihat siapa."


"Itu benar.  ......Setiap kali aku melihat Riku-chan, matamu selalu......"


Suara Yono semakin pelan.  Aku hampir tidak bisa menangkap bagian terakhirnya.


"Mungkin aku juga harus berdandan seperti Ayana-chan."


"..........K-Kenapa?"


"Yah, kenapa, yah?""


"Huh?"


Yono benar-benar tidak bisa kumengerti.  Dia malah mempertanyakan apa yang dia katakan.


Tapi dari sudut pandangku, alasannya jelas.


Kecemburuan.....


Jika seseorang yang kau sukai tertarik pada lawan jenis selain dirimu sendiri, kau pasti menjadi ingin bersaing dengan mereka.


Yono tidak menyadari itu - sampai sebelum kemarin, aku pasti akan melompat kegirangan karena memikirkannya!   Namun, Yono hanya melihatku sebagai teman masa kecilnya.  Komentarnya sebelumnya, mungkin benar-benar hanya komentar biasa.


"Nee, Riku-chan."


"Apa?  ---Huh?"


Untuk beberapa alasan, mata Yono menyipit dan dia menatapku.


Itu adalah wajahnya saat sedang marah.


"Mungkinkah ..... kamu sedang bersama Ayana-chan tadi malam?"


"Ap---?!"


"Riku-chan?"


Aku yakin itu!  Dia sedang mencoba membunuhku sekarang!


Aku punya firasat jika aku menjawabnya dengan cara yang salah, maka dia akan memenggal kepalaku dengan pisau sekarang;


Tunggu, Yono tidak sedang memegang pisau.


Tapi lihat, ada senyum dingin di wajahnya ..... berarti firasatku benar.


"Tidak, tidak.  Itu terlalu awal untuk Riku-chan."


"N-Nah tuh tahu......"


"Aku sudah berteman denganmu sejak kita masih kecil.  Kita telah menghabiskan banyak waktu bersama sebagai keluarga.  ......Jadi aku harus memastikan bahwa kamu tidak melakukan sesuatu yang aneh."


"Apa maksudmu, 'melakukan sesuatu yang aneh'?"


"...........Si Ayana-chan itu, ada rumor bahwa dia memiliki hubungan dengan banyak laki-laki." ucap Yono dengan nada penyesalan.


Yah, aku tahu apa yang dia coba katakan padaku.


Tapi aku bisa jamin bukan itu kebenarannya.  Aku bisa yakin karena percakapan semalam antara aku dengan Hoshimiya.


"Rumor itu cuma omong kosong."


"Ya, aku juga berpikir begitu.  Tapi, ada kemungkinan bahwa itu benar......"


"............."


"T-Tapi jika Riku-chan tertarik pada hal semacam itu ..... aku akan melakukan yang terbaik sebagai teman masa kecilmu!" kata Yono dengan nada tegas sambil tersipu.


.......Aku juga ingin melakukannya denganmu, tapi sebagai kekasih, bukan teman masa kecil.


Aku tidak yakin apa yang harus kulakukan dengan ini.


Kupikir dia secara tidak normal terikat pada hubungan teman masa kecil.


"Jika kau akan pergi sejauh itu, mengapa kau tidak ...... pacaran denganku?"


"Eh?  Aku hanya punya perasaan padamu sebagai teman masa kecil, dan aku tidak memiliki ...... perasaan untuk cinta."


Aku merasa seperti telah dibor di dadaku.  Untuk menjaga pikiranku, aku memutuskan untuk kembali ke topik.


"Tidak ada apa-apa di antara aku dan Hoshimiya."


Aku memutuskan untuk berbohong.  Jika aku memberitahunya bahwa aku menginap di rumah Hoshimiya, maka aku harus menjelaskan bagaimana hal itu terjadi, dan aku tidak ingin melakukan itu.


"Benarkah?"


"Iya.  Alasanku melihat Hoshimiya adalah karena aku mendengar bahwa ...... Hoshimiya tidak pernah mendapat pengakuan."


"Heh, aku tidak tahu ada cerita seperti itu.  Ah, tapi aku mungkin mengerti sedikit.  Aku ingin tahu apakah sulit untuk mengaku padanya ketika dia seimut itu.  Apalagi, ada Kana-chan di dekatnya."


"Kana?  Oh, gadis itu."


Aku menduga bahwa dia mengacu pada gadis di sisi Hoshimiya dengan mata yang menyeramkan.


"Aku pernah mendengar sesuatu seperti ...... Kana-chan bertindak mengintimidasi agar bisa menjauhkan para pria dari Ayana-chan."


Hmmm.  Itu adalah cerita yang cukup meyakinkan.


Dari percakapan semalam, aku mengetahui bahwa Hoshimiya tidak terbiasa dengan laki-laki.


Dia tidak terbiasa dengan pria, tidak sama sekali.  Penampilannya sebagai seorang gyaru hanyalah penampilan belaka.


Temannya Kana mungkin tahu ini dan ingin melindungi Hoshimiya.......


"Nee, Rikku-chan.  Apa kamu ingat kalau nama belakangnya Hoshimiya?"


"Ya, karena kita sekelas ........ itu pertanyaan yang aneh, bukan?


"Ah, iya juga.  Hahaha.  Kalau begitu, lupakan saja."


Seolah ingin menutupi sesuatu, Yono tersenyum cerah.  Apa coba...?


"Yono-!  Lihat ini sebentar!"


Seorang gadis yang sedang melihat ponselnya di tempat duduk Yono memanggilnya cukup keras.  Yono kemudian mengangkat tangannya dan dengan riang menjawab, "Aku datang!"


"Sampai jumpa lagi, Riku-chan!  Ah ....... aku memasukkan hamburger mini favoritmu ke dalam bento hari ini!"


Setelah mengatakan ini, Yono kembali ke tempat duduknya dan melanjutkan percakapannya dengan temannya.


Nah, apa yang akan kulakukan sekarang, yah?


Aku secara alami menoleh untuk melihat Yono dengan pikiran itu di pikiranku.



"Haaaa?!  Ayana!  Kamu serius membiarkan Kuromine menginap di rumahmu?!"



Suara terkejut Kana menenggelamkan kebisingan di dalam kelas dan membawa suasana yang tenang dan hening.


Saat berikutnya, tatapan semua teman sekelas beralih ke arah Hoshimiya dan Kana.


"Hei, Kana!  Suaramu terlalu keras!"


"Tidak, itu karena, Ayana ....... apa kamu berkencan dengan Kuromine?"


"Tidak, kami tidak berkencan, tapi....."


Suara kecil Hoshimiya menyebar di ruang kelas yang sunyi. Ini mungkin sedikit berbahaya.


Ketakutanku segera dikonfirmasi.  Orang-orang di kelas saling berbisik.


--- "Hei, apa dia serius?  Apakah Hoshimiya membiarkan pria yang tidak dia kencani menginap di rumahnya?"


--- "Jadi rumor bahwa dia suka bermain-main itu benar ....... kupikir itu bohongan."


--- "Kukira dia gadis yang sangat polos."


--- "Hoshimiya menyebalkan, bukan?"


--- "Maksudku, jika Kuromine bisa melakukannya, aku juga bisa, kan?"


--- "Tunggu sebentar.  Kuromine itu siapa?"


............Bolehkah aku menangis sekarang?  Mengapa semua kerusakan ini mengarah padaku?


Teman sekelasku bahkan ada yang tidak tahu bahwa aku ada.......


Kupikir aku telah dikenali dengan cara yang berbeda.  Lalu, aku bisa mendengar suara seorang pria.


"Kuromine ...... ah, itu dia!  Dia adalah orang yang selama ini menempel pada Yono-chan-ku!"


Haha, matamu!  Ngajak ribut, huh?!  Yono bukan milik siapa-siapa!


Tapi apa yang kebanyakan pria di kelas itu pikirkan adalah bahwa Hoshimiya akan membiarkan pria yang bukan pacarnya tinggal di rumahnya.  Tentu saja, mereka juga membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.  Padahal sebenarnya tidak terjadi apa-apa.


"Eh, umm ....... ah ......."


Hoshimiya, yang tampaknya telah merasakan tatapan dan pikiran di sekitarnya, jelas tampak gelisah.


Kana juga memasang ekspresi seolah ingin berkata, "Oh tidak!"


......Sial, kalau dibiarkan, hal ini malah akan membuat Hoshimiya terlihat seperti j*lang.


Apa yang harus kulakukan?


Menurut pengalamanku, yang terbaik adalah menghancurkan rumor sebelum itu menyebar.


Aku perlu melakukan sesuatu sekarang.  Hoshimiya adalah dermawanku.


Aku ingin membantunya entah bagaimana.


Masalahnya sekarang adalah, Hoshimiya tetap membiarkan pria yang bukan pacarnya menginap di rumahnya.


Kalau begitu, aku harus menjadi pacarnya Hoshimiya!


Sesaat, wajah Yono terlintas di benakku, tapi kemudian aku berdiri dari kursiku dengan suara gemerincing.


Secara alami, aku menarik perhatian seluruh kelas.  .....Kalian terlalu memperhatikanku, bukan?


"Hoshimiya ...... terima kasih karena telah mau berkencan denganku."


"......Eh, Kuromine-kun......?"


"Yah, itu wajar karena aku mengaku padamu sambil menangis.  Tapi aku tidak menyangka kau akan berbaik hati membiarkanku berkencan denganmu.  Tapi bukankah kau sedikit ketat?  Kau bahkan tidak mengizinkanku untuk berpegangan tangan denganmu.  Meskipun kau membiarkanku tinggal di rumahmu kemarin, tetapi kau bahkan tidak ...... memperbolehkanku melakukan apa pun............."


"Apa yang kamu bicarakan, Kuromine-kun?  Aku..."


"Kita sepakat untuk bersama selama sebulan, kan?  Yah ... sebulan ...... terima kasih."


Bagaimanapun, aku berbicara secara sepihak.


Itu jelas tidak wajar dan bukan sesuatu yang akan dibicarakan di depan semua orang.


Tapi sepertinya itu berpengaruh, dan orang-orang di kelas....


--- "Menangis sambil mengakui perasaanmu, itu mengerikan!"


--- "Apakah Hoshimiya berkencan dengan Kuromine karena kasihan......?"


--- "Itu hanya untuk waktu yang terbatas, dan kau bahkan tidak diizinkan untuk berpegangan tangan.  ......Apakah Hoshimiya begitu terjaga?"


--- "Itu benar, dia ingin menyembunyikan fakta bahwa mereka bersama, kan?"


Mereka mulai mengatakan apa pun yang ingin mereka katakan.  Entah bagaimana, kehormatan Hoshimiya berhasil dilindungi.


"Hei, tunggu sebentar!  Aku dan Kuromine-kun..."


Saat Hoshimiya berdiri dari kursinya dan hendak mengatakan sesuatu, wali kelas muncul di kelas.  Hoshimiya, yang momentumnya melemah, menutup mulutnya dan duduk kembali di kursinya.  Aku juga duduk di kursiku dan menghela napas lega.  Kupikir aku berhasil menangani malapetaka mendadak dengan hampir sempurna.  Aku yakin Hoshimiya akan berterima kasih padaku nanti.


"Mmmmmmm.......!"


Hoshimiya berbalik menatapku dengan wajah merah.


Itu bukan silau yang sangat kuat, tapi itu ...... menyilaukan.  Dia terlihat lucu seperti hamster.


Aku merasa yakin bahwa aku telah membuatnya marah.  ......Tapi karena apa?


"-----!"


Aku merasakan tatapan yang kuat terhadapku lagi.  Aku secara refleks menoleh ke arah Yono, dan wajahnya, dengan pipinya yang membusung, melompat ke bidang pandangku.  Dia juga terlihat seperti hamster, tetapi matanya jelas dipenuhi amarah.


Aku dalam masalah.


.........Tapi aku tidak yakin apa yang salah dengan itu.


Aku dan Yono hanyalah teman masa kecil.


Ditambah aku telah menyatakan perasaanku pada Yono dan ditolak.


Itu artinya dengan siapa aku berkencan, seharusnya tidak ada masalah dengan Yono.


Yah, aku akan menjelaskannya pada waktu istirahat berikutnya.


***


Pada saat jam istirahat, dua gadis datang kepadaku.


"Riku-chan!  Apa itu tadi?!  Jelaskan padaku!"


"Kuromine-kun!  Apa maksudmu dengan yang kamu katakan tadi?!"


Itu adalah Yono dan Hoshimiya.  Keduanya, dengan wajah merah cerah, mendatangiku dengan kekuatan karung tinju.  Aku merasa ingin mengibarkan bendera putih dan menyerah.  Aku juga merasa bahwa alasan mengapa wajah mereka merah berbeda.


Dalam kasus Yono, itu adalah kemarahan, dan dalam kasus Hoshimiya, itu adalah rasa malu.


"Maaf, Ayana.  Bolehkah aku meminjam Riku-chan duluan?"


"Oh, tapi aku juga..."


"Aku dulu."


Yono meraih lengan kananku tanpa menunggu jawaban Hoshimiya dan membuatku berdiri dari kursiku.


"Ayo pergi, Riku-chan!"


"A-Ah..."


Tidak dapat menahan tenaga Yono yang luar biasa, aku, yang ditarik oleh lengannya, memutuskan untuk ikut dalam diam.