Tidak Ada Yang Percaya Padaku [Chapter 44]
No One Believed Me. If You Say You Believe Me Now, It’s Too Late Bahasa Indonesia
Chapter 44: Voli?
Ball gamenya dimulai pada Jumat depan.
Biasanya, ini bukanlah acara yang aku perhatikan. Tapi ball game kali ini mungkin adalah sebuah kesempatan untuk melakukan suatu perubahan.
'Jika aku bisa bermain, itu akan menjadi pengalaman yang luar biasa.'
Atau lebih tepatnya, aku mulai merasa seperti aku tidak akan pernah bisa melupakannya jika aku tidak berpikir seperti itu.
Anri dan aku dibawa ke gym oleh Haruka yang sedang kebingungan.
Ini adalah hari terakhir ujian, jadi aktivitas klub telah dilanjutkan.
Di gym yang luas, tim voli dan basket berlatih dengan rajin.
“Eh, uhm, a-aku pikir, akan lebih baik jika kamu menonton klub voli dulu.”
Sambil mendengarkan honorifik aneh Haruka, kami mengunjungi klub voli.
Anggota klub voli sangat terampil maminkan bolanya dan berlarian di dalam lapangan.
Jaringnya lebih tinggi daripada yang lain.
“P-Pemain voli akan berputar dan berganti posisi dengan cepat. Aturannya dapat dilihat di..."
"Haruka, aku sudah mengingat aturan yang ada di buku, jadi aku akan baik-baik saja. Meskipun ...... itu sangat intens. ”
“Hi! K-kau tahu, ball game akan berjalan lebih santai, m-mungkin. Anak perempuan kurang kompetitif dibanding anak laki-laki. Dan kupikir jaringnya juga akan sedikit lebih rendah."
Aku tidak bisa hanya diam saja, jadi aku menyelanya.
“Haruka, jangan menggunakan honorifik yang aneh. ...... Yah, aku juga menggunakan honorifik yang aneh, tapi Haruka tidak perlu memaksakan diri untuk menggunakannya. Bersikaplah seperti biasa saja.”
“Umm, baiklah, tapi aku akan mencoba yang terbaik...”
Ketika kami membicarakan hal ini di sudut gym, seorang anggota senior dari tim voli mendatangi kami. Gadis sekolah berambut pendek memberi Haruka tos dengan senyum yang menyegarkan. Itu adalah aura murid bangku belakang...
“Oi, Haruka-chan! Ada apa? Apa kamu akan membantu kami berlatih hari ini?”
“Halo, senpai! Uhm, a-aku sedang menjelaskan tentang voli kepada seseorang yang telah banyak membantuku hari ini. …… B-bisakah aku meminjam sudut gym itu?”
"Um, baiklah, tidak masalah kalau itu Haruka. Kalau begitu, mengapa kamu tidak ikut saja denganku untuk satu sesi latihan? Tidak ada orang lain yang kukenal yang bisa spike seperti Haruka.”
“Y-ya, h-hanya sebentar, oke……”
Haruka melirik kami. Aku dan Anri saling mengangguk untuk menyuruhnya pergi.
Untuk saat ini, kami memutuskan untuk menunggu sampai latihannya Haruka selesai.
Haruka mengenakan seragam sekolahnya, tapi dia sepertinya memakai spat di dalamnya.
Yang mengejutkanku adalah, bahwa dia akan ikut latihan dengan seperti itu.
Aku bisa melihat bahwa semua mata anak laki-laki yang di gym, terfokus pada Haruka.
Aku menghentikannya sebelum dia pergi ke lapangan dengan seragamnya.
“H-haruka. Apakah kau akan bermain bola voli dalam hal itu? Itu, dan jika kau terbang, rokmu akan…….”
“Ya, tapi aku memakai spat di bawahnya……”
"Tidak. Kau perlu berganti dengan seragam olahragamu. Lihatlah bagaimana para anak laki-laki itu melihatmu seperti binatang buas? Haruka itu polos dan terlihat cantik, jadi jangan beri mereka kesempatan.”
“Hee!? O-Onii-chan…..U-un, t-tunggu... aku akan ganti baju”
Haruka meraih seragam olahraganya dan berlari ke ruang ganti. Dalam satu menit, dia keluar dari pintu.
Aku menepuk dadaku sendiri. Aku merasakan tatapan tajam dari para anak laki-laki.
“Aku kakaknya Haruka.”
Kataku dan melihat ke sekelilingku dengan mata dingin.
Kata "kakak" mungkin akan berpengaruh, tetapi tatapan seperti itu tidak menghilang.
Haruka berpartisipasi dalam latihan dan menunjukkan kemampuan fisik yang luar biasa.
Dia sebanding dengan anggota klub voli, ......, atau bahkan di mata orang awam, dia setara dengan kaptem klub voli yang memanggilnya tadi.
Tubuh kecilnya melompat-lompat. Servisnya yang kuat berhasil menembus area lawan.
Serangan itu sangat menarik karena berhasil menerobos blok pemain lawan.
'Apa-apaan kemampuan fisik gadis ini? ...... Aku tidak mengenal Haruka yang seperti ini karena aku tidak berhubungan sedikitpun dengannya di sekolah.
Aku merasa seperti aku tidak mengenal Haruka dengan baik.
Peristiwa dari masa lalu berputar-putar di kepalaku. Tapi ketika aku melihat Haruka yang bermain voli dengan gembira, semua peristiwa itu mulai memudar.
Anri berbisik di sebelahku.
“U-uuu, Haruka, kamu sangat imut. Aku sangat ...... cemburu karena kamu dan Makoto tinggal bareng.……”
Anri sangat imut dengan mulutnya yang ternganga sehingga aku memutuskan untuk mengabaikan gumamannya.
“Yah, begitulah. Voli cukup menantang, bukan?”
Haruka, yang tidak kehabisan napas, telah kembali sambil terlihat agak malu.
Dia memegang bola di tangannya. Lalu ia melemparkankan bolanya dengan lembut ke arah Anri.
"Uwawaa?!”
Anri terkejut tetapi berhasil menangkapnya.
“S-Shinozuka-san. Pertama, kita akan berlatih melempar dengan membuat bentuk segitiga dengan telapak tanganmu yang diletakkan di atas kepala. Ah, A-apa kamu yakin kalau kamu punya waktu untuk latihan?”
Ini adalah hari terakhir ujian, jadi masih ada waktu. Dan Anri mengangguk pun sambil menatap bolanya.
“U-Un, tolong ajari aku.”
Anehnya, aku merasakan mata para anak laki-laki itu sedang menatapku lagi. Itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan insiden Haruka yang sebelumnya.
Anri mengenakan seragam sekolahnya, tetapi dia tidak membawa seragam olahraga. Jika Anri bermain voli menggunakan rok, maka itu akan…….
Aku menarik lengan Anri tanpa pikir panjang.
“A-Anri, a-a-mari kita berlatih di belakang gedung sekolah di mana tidak ada yang melihat. Kita akan menghalangi aktivitas klub jika berlatih di sini.”
“Ah, itu benar. Haruka-san, ayo pergi ke belakang gedung sekolah.”
Kali ini, aku merasakan tatapan para gadis dari klub voli.
Mereka menatapku sambil tersenyum. Aku tidak keberatan karena itu bukan senyum yang menjijikkan, tapi kenapa mereka begitu?
Aku menarik lengan Anri dan berjalan keluar dari gym, tanpa mempedulikan mereka.
'Ya, aku merasa lebih nyaman ketika tidak ada orang di sekitar kami.'
Aku memikirkan hal itu ketika aku melihat Anri dan Haruka berlatih.
Rok Anri bergoyang setiap kali dia mengembalikan bolanya, tetapi dengan tekad baja, aku mencoba untuk tidak melihatnya.
Anri itu tinggi. Jadi dia mengembalikan bolanya Haruka dengan lemparan yang indah.
Pada awalnya, bolanya mengarah ke arah yang salah, tetapi setelah beberapa kali pengulangan, dia dapat melakukannya dengan baik.
'Apakah sisi atletisnya terpicu? Mungkinkah dia cuma tidak serius ketika berpartisipasi di kelas olahraga, tapi sebenarnya dia kuat secara fisik?'
Akhirnya, Haruka mengajari Anri caranya menerima. Lengan Anri pun berubah menjadi sedikit memerah.
Ketika aku melihat itu, aku mulai khawatir apakah dia akan baik-baik saja.
"Y-yah, kupikir kamu harus berhenti berlatih sekarang? Lengan Anri menjadi semakin merah.”
Aku menyelanya, berusaha untuk tidak membiarkan dia tahu betapa khawatirnya aku.
Suara Anri, yang sedikit berkeringat, melengking. Dia benar-benar lupa aksen Yankee-nya.
“Tidak apa-apa, Makoto! Hehe, ini agak menyenangkan! Aku belum pernah bermain bola sebelumnya, jadi ini menyegarkan!”
“A-aku mengerti, ……, k-kalau begitu tidak apa-apa, tapi hati-hati jangan sampai terluka.”
Kami adalah penulis, tangan kami adalah hidup kami. Jika Anri terluka...
Memikirkannya saja sudah cukup untuk menyebabkan kegelisahan keluar dari dalam diriku.
“O-Onii-chan, j-jangan khawatir. Ini hanyalah latihan ringan untuk membuatnya terbiasa dengan bola.”
Aku mengangguk dan mundur selangkah. Aku memeriksa email di ponselku untuk menenangkan diri.
Ah, iya, aku mungkin harus melihat sedikit proofreading Saeko-san.
Aku membuka file manuskrip yang dikirimkan Saeko-san kepadaku.
Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menjerit.
"A-Apa-apaan...... ini ......."
Aku berlutut di tempat pada perubahan dan penambahan cerita dari versi web yang telah kukirimkan ke Saeko-san Kupikir hanya akan ada beberapa revisi.
Tetapi…
"Huh? Ada apa, Makoto?”
"Oni-chan ...... Apa kamu baik-baik saja?"
Mereka pasti menyadari ada yang tidak beres denganku, jadi mereka berhenti berlatih dan bergegas ke arahku.
“A-aku tidak baik-baik saja……. Tidak, aku baik-baik saja. Ya, ini hanyalah cobaan. Tidak apa-apa, aku akan melewatinya...."
Aku menunjukkan ponselku kepada Anri. Layar ponselku menunjukkan manuskrip, yang diwarnai merah tanda harus koreksi.
Anri menggaruk kepalanya dan berkata padaku.
“Ah, mau bagaimana lagi. ...... D-Dia bilang itu jauh lebih sedikit daripada draft pertamaku. Hei, mungkin saja semua sensei memang seperti itu, bukan?”
Anri mengusap punggungku dan menghiburku.
Oke, jadi ini adalah hal yang normal. ...... Aku telah meremehkannya. Kupikir itu akan menjadi publikasi yang lancar. Dan ketika aku melihat revisinya, aku dapat melihat bahwa Saeko-san sangat kompeten. Aku tidak boleh mengeluh tentang revisinya.
Haruka tersenyum padaku saat dia duduk.
“O-onii-chan ……, apa kamu baik-baik saja? Jika kamu sakit perut, kamu harus pergi ke UKS. …… Oh, aku punya obat perut! Aww, aww, apa yang harus aku lakukan, Oni-chan sebentar lagi akan mati…….”
'A-Apakah aku terlihat sepucat itu…….?!'
Aku menepuk bahu Haruka dengan ringan dan berdiri, agar tidak membuatnya khawatir.
"Aku baik-baik saja. Ini hanya sedikit tak terduga, itu saja. Ayah dan ibu Haruka mungkin akan memberitahumu tentang hal ini, tapi aku perlu untuk merevisi novelku...”
“Ah, ya, itulah yang ibu katakan, tapi Haruka, aku hampir memberitahu seseorang, tapi aku melupakannya!? …… Uhm, baiklah, aku akan melupakannya sampai itu bisa diterbitkan dengan benar!”
[TL: Saya tidak paham apa maksud dari perkataannya Haruka.]
Haruka menampar dirinya sendiri dengan pedih……. Suara yang menyenangkan bergema melalui bagian belakang gedung sekolah.
B-Begitukah caramu melupakannya? Orang ini, apa-apaan dia? ..... Apakah dia sakit? Haruskah aku membawanya ke rumah sakit? Faktanya, aku lebih mengkhawatirkan Haruka daripada diriku sendiri.
Aku dan Anri saling berpandangan. Entah kenapa Anri berusaha untuk tidak tertawa.
Aku juga sedang dalam mood untuk tertawa juga.
“Fueeehh? Mengapa kalian tertawa? Yah, aku tidak tahu, kalian terlihat seperti sedang bersenang-senang. Hehe, Onii-chan tertawa. ……, hehe, hiks……, Onii-chan……, hiks……”
Untuk suatu alasan, Haruka menangis dan tertawa pada saat yang sama.
Kurasa dia tidak tahu bagaimana caranya mengatasi emosinya sendiri.
Sudah lama sejak aku dipanggil dengan kata 'Onii-chan'.
Aku melihat Haruka yang sedang menangis dan tertawa sambil memikirkan hal itu.