Tidak Ada Yang Percaya Padaku [Chapter 43]
No One Believed Me. If You Say You Believe Me Now, It’s Too Late Bahasa Indonesia
Chapter 43: Turnamen Ball Game
“Kerja bagus, semuanya. Ini adalah akhir dari ujian akhir. Satu-satunya acara di semester ini adalah ball game. Aku ingin menggunakan waktu homeroom ini untuk memutuskan tim. Ketua, silahkan maju dan putuskan."
Mashima-sensei, wali kelas kami, menginstruksikan kami.
Di dalam kelas setelah ujian, beberapa murid tersenyum, beberapa putus asa. Semuanya tampak bahagia dan juga sedih tentang seberapa baik mereka dalam mengerjakan ujiannya, tetapi mereka tampak sama-sama lega untuk saat ini. Ada suasana relaksasi di dalam kelas.
Mashima-sensei menyerahkan semuanya kepada para murid ketika dia membuat keputusan itu. Dia hanya sesekali ikut campur.
Ketua panitia melangkah maju, menggigit lidahnya dan berkata, “Hiya Hiya!”
Dengan tangan yang terlatih, ketua mulai menulis rincian formasi tim di papan tulis.
Tim bisbol putra hanya terdiri dari tim A.
Sedangkan tim voli putri terdiri dari dua tim, yaitu A dan B.
Akan ada turnamen antar kelas.
Bisbol adalah permainan yang memakan waktu, jadi ada aturan khusus bahwa permainan akan berakhir setelah lima babak. Cold game juga diterapkan. Pihak sekolah ingin mengadakan sebanyak mungkin game.
Dalam hal ini, bisbol dan sepak bola, yang membutuhkan lebih banyak waktu tetapi dapat dimainkan oleh banyak orang, mungkin pilihan yang tepat.
Lapangannya cukup besar untuk menampung dua pertandingan sekaligus. Dan juga tidak ada terlalu banyak kelas, jadi gamenya akan segera berakhir.
Adapun anak laki-laki, tidak ada yang harus dipilih, karena mereka semua berada di tim yang sama.
Yang harus mereka lakukan hanyalah memutuskan posisi bertahan dan urutan mainnya.
Saat aku memikirkan hal ini, ketua menunjuk Yamada dan memintanya untuk mengatur tim.
Begitu, jadi Yamada adalah satu-satunya murid di kelas ini yang ada di tim bisbol. Yamada telah memperhatikan gerakan anak laki-laki selama kelas olahraga, jadi dia seharusnya bisa mengaturnya dengan tepat.
Anri dan aku tidak pernah pandai dalam memilih tim.
Itu mengingatkan kami pada kenangan buruk dari masa lalu. Tapi kali ini, aku tidak merasakan sesuatu yang buruk.
'Jika aku tidak diikutsertakan dalam pertandingan bisbol, maka aku bisa pergi ke gym, tempat dimana Anri berada.'
Anri berbisik padaku.
"Jika aku tidak diikutsertakan dalam pertandingan bola voli, maka aku akan menontonmu, Makoto.”
Dia memikirkan hal yang sama denganku. Aku menganggukkan kepalaku, dan merasa sedikit geli.
Semoga saja wajahku tidak memerah.
Jadi, aku mengikuti arusnya dan memikirkan tentang plot untuk postingan berikutnya.
Dan pagi ini, Saeko-san mengirimiku email yang berisi instruksi untuk proofreading. Aku belum memeriksa file yang terlampir, tetapi aku akan memeriksanya secepatnya setelah aku pulang dan mengalahkan deadlinenya.
Di depanku, Yamada dan yang lainnya membuat banyak keributan.
Aku dengan santai melihat ke arah papan tulis.
Sepertinya aku telah ditempatkan sebagai alternatif, seperti yang kuduga. ……, tapi itu ditulis dengan cara yang sedikit mengkhawatirkan.
Untuk beberapa alasan, namaku dilingkari dengan tebal, dan aku ditandai sebagai back-up.
'Tunggu, aku tidak memiliki pengalaman bermain bisbol, oke? Ah, aku akan memberitahu Yamada nanti.....'
Anri membuat suara hampa di kursi di sebelahku.
“Fueehh!? Ah, tidak, eh, aku akan bermain di babak pertama! A-apa yang harus aku lakukan, Ma-Makoto?!”
"T-tunggu, Anri, tenanglah! Nada suaramu bocor!"
Anehnya, entah mengapa, tidak ada teman sekelas kami yang menyadari nada suara Anri. Sebaliknya, mereka malah mengawasinya dengan tatapan yang hangat. Aku penasaran, tapi aku harus membiarkan Anri tenang terlebih dahulu.
“T-Tidak apa-apa. Aku akan datang menontonmu.”
“A-aku gugup. …… Ah, maksudku aku tidak gugup! O-Oi, jangan tatap aku!”
Teman sekelas kami mengalihkan pandangan mereka tanpa mengatakan apapun.
Miyazaki-san menahan tawanya di kursinya.
Anri menjatuhkan diri ke mejanya untuk menyembunyikan rasa malunya.
Aku, di sisi lain, merasa agak berat hati ketika aku mulai harus berbicara dengan teman sekelasku selain Anri.
“Aduh, Shinjo! Lagipula, kau memiliki otot yang cukup bagus! Jangan khawatir, ototmu tidak akan mengkhianati kami! Aku yang akan bertanggung jawab!"
“T-tidak, dengarkan aku. Aku belum pernah bermain bisbol sebelumnya. Apa gerakan rahasiamu?”
"Huh? Yah, jangan khawatirkan itu! Aku menantikan pertandingannya!"
Yamada menampar punggungku dan pergi ke aktivitas klubnya. ...... Tidak ada yang konstruktif yang bisa dikatakan tentang hal ini. Dia sama sekali tidak mendengarkanku. Atau lebih tepatnya, sepertinya ada masalah di dalam pikirannya yang berpikir bahwa itu adalah langkah mundur.
Posisiku adalah sebagai fielder kanan. Aku yakin kalau itu adalah outfield.
Tidak banyak waktu yang tersisa sebelum ball game. Tapi, aku tidak terlalu tertarik menyaksikan pertandingan bisbol profesional.
Aku hanya pernah melempar batu ke tepi sungai.
Aku bahkan belum pernah mengayunkan tongkat dalam hidupku. ...... Tidak apa-apa, lagipula aku hanya pemain pengganti, jadi aku yakin kalau aku tidak akan mendapat kesempatan untuk bermain. Aku yakin Yamada pasti bisa mengatasinya.
Anri tetaplah Anri, aku bisa melihat wajahnya berkerut di antara alisnya untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama. Dia biasanya memakai kacamata, tapi hari ini dia menatapku dan mengerutkan alisnya.
Dia terlihat lebih seperti kesal daripada marah.
Anri satu tim dengan Miyazaki-san, yang merupakan kapten tim A.
Baik Anri dan aku tidak pandai berbicara dengan siapa pun. Aku sangat buruk berhubungan dengan orang lain. Itu mengingatkanku pada masa lalu.
"Betapa cantiknya kulitnya…"
"A-apa yang kamu gunakan untuk merawat kulitmu?”
“Eh, apa-apaan rambut pirang itu? Uwa rambutmu sangat halus.”
“Wajahmu sangat mungil ……, ya, kamu akan terlihat luar biasa saat bersamaku.”
“Ya, ya, kamu berada dalam masalah, Shinozuka-san. Mari kita lakukan itu!”
Anri berdiri di sana. Dia melirikku dari waktu ke waktu, tapi aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak bisa memutuskan apakah aku harus ikut campur ke sana atau tidak.
“A-Aku-aku tidak pernah bermain bola voli seumur hidupku. Dan aku bahkan tidak atletis.……”
Miyazaki-san, yang memakai kacamata, tersenyum padanya. Dia terlihat seperti seorang ibu.
"Tidak masalah. Aku juga seorang kapten meskipun aku belum pernah bermain bola voli sebelumnya. Aku bahkan tidak tahu aturannya. Jadi, kelas kita harus menikmati permainan bola volinya daripada memikirkan menang atau kalah! Hei, kenapa kamu tidak bersenang-senang dengan kami juga, Shinozuka-san!”
Saito-san tidak lagi memakai pakaian yanh mencolok dan mengingatkanku pada dirinya yang dulu. ...... Itu adalah senyum lembut yang sama yang dia miliki pada saat itu. ......Aku masih tidak tahu bagaimana caranya berinteraksi dengan Saito-san.
Kata-katanya sama persis seperti saat dia masih memakai pakaian yang mencolok, tapi itu mengingatkanku pada kata-kata Saito-san saat kami sering berbicara di perpustakaan.
Anri mengangguk kecil, bingung.
Pada saat itu, seorang murid muncul, ia masuk ke kelas seperti peluru.
"Miyu-chan! Aku telah menyelesaikan ujianku! Akhirnya, sekarang aku bebas untuk—— heh?”
Adik tiriku, Haruka, menyerbu masuk ke dalam kelas.
Dia terbatuk malu ketika dia melihat Anri berbicara dengan Saito-san dan aku yang melihatnya dari jarak yang cukup jauh.
"Go-gohon, eh, uhm....."
Haruka menundukkan kepalanya saat dia menatapku.
"Ah, terima kasih banyak……, T-Terima kasih, ujiannya……, um, aku akan melaporkannya padamu ketika aku sudah tahu hasilnya…….”
Untuk beberapa alasan, dia menggunakan honorifik. Mungkin dia tidak tahu bagaimana caranya berinteraksi denganku.
'Jangan khawatir, aku juga belum tahu bagaimana caranya.'
'Y-Ya, beri tahu aku ketika kau sudah mendapatkan hasilnya. …… Haruka, Kerja bagus.”
Saat aku mengatakan itu, Haruka mengangguk berulang kali dan bersembunyi di belakang Saito-san.
Saito-san tersenyum pahit. Dan Haruka menatap Anri, dan Anri kebingungan.
Saito-san membuka mulutnya.
“Kamu pandai bola voli, kan, Haruka? Kamu harus mengajariku nanti, tapi ......, kenapa kamu tidak mengajari Shinozuka-san cara bermain bola voli juga?”
""Heh?""
Anri dan Haruka mengeluarkan suara yang aneh secara bersamaan.