Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Teman Masa Kecilku Yang Terimut Di Dunia [Chapter 31]

Forever And Always, My Childhood Friend Is The Cutest Girl In The World Bahasa Indonesia




Chapter 31: Berbaring Di Pangkuan Teman Masa Kecilku 


"Apa kamu begadang lagi?"


Sekarang jam makan siang dan kami sedang berada di ruang kelas serba guna.  Aku bisa merasakan beratnya pertanyaan Rin saat aku mengaduk-aduk bentoku dengan sumpitku.


"Tidak, apa menurutmu aku begadang?"


Reaksinya terasa seperti seseorang yang sedang menanyai rekan kerja mereka tentang siapa yang memakan puding yang mereka taruh di lemari es.  Dia terus menatapku, tidak membiarkanku lari saat dia melanjutkan bicaranya.


"Kapan kamu tidur dan kapan kamu bangun?"


"Aku tidur jam 9 dan bangun jam 5..."


"Itu terdengar seperti sesuatu yang dilakukan oleh murid teladan yang sangat disiplin."


"Yah, ada satu orang di kelas kita yang sangat cocok dengan deskripsi itu."


"Tapi Tohru-kun tidak keren sama sekali."


"Karena aku berkeliaran sambil telanjang sepanjang waktu?"


"Hmm, coba lihat... kamu tidur jam 2 dan bangun jam 6?"


"S-Sialan, kau menebaknya dengan sempurna."


"Yah, bagaimanapun juga, aku adalah teman masa kecilmu."


Alih-alih mengeluarkan ekspresi sombongnya yang biasa, Rin malah mengerutkan alisnya.


"Apakah kamu menulis?"


Rin menatapku, seolah-olah dia sudah tahu apa jawabanku.  Aku tidak bisa menyembunyikan apa pun darinya, bukan?  Aku menghela nafas dan merentangkan tanganku saat aku menjawabnya.


"Yah, bisa dibilang begitu..."


Wajah Rin menjadi sedikit lebih mendung saat dia mendengarku mengatakan itu.


"Jadi begitu..."


Bisikan lembutnya memiliki nada kesedihan di dalamnya.


"Kamu bisa menggunakan pangkuanku jika kau mau."


Rin tiba-tiba mengusulkan itu setelah kamk selesai makan.


"Huh?"


Aku tidak dapat menangkap apa yang dimaksud Rin dalam pernyataannya itu. Ketika aku menghela nafas.  Aku melihat wajah Rin, dan aku melihat sedikit rasa malu yang tegang darinya.  Pikiranku akhirnya menyusul, jadi aku membuka mulutku.


"Umm... jadi aku bisa membaringkan kepalaku di pangkuanmu?"


"Jangan salah paham, ini hanya agar kamu tidak terlalu lelah untuk sisa hari ini, dan tidak maksud lain. Aku layaknya dewi yang baik hati yang memutuskan untuk membantumu karena iseng."


"Kau mengatakan frasa itu lagi. Yah terserahlah, aku akan berbaring saja di sini."


"Lantainya keras, lehermu akan sakit nanti."


"Untuk seorang dewi yang baik hati, kau sangat suka mengeluh."


"Terserahlah."


Pipinya mulai memerah saat dia membuang muka.


"Kamu telah membantuku menyembuhkan rasa lelahku beberapa waktu yang lalu... jadi dengan ini, kita akan seimbang."


Kata-kata Rin mengingatkan kelima indraku tentang apa yang terjadi tempo hari.  Inderaku meledak sekaligus. Seolah-olah itu nyata, aku merasakan sensasi hangat dan lembut di sekitarku.  Bau aroma familiar yang mengingatkanku pada kenyamanannya.  Dan hidungku, aku merasakan sentuhan ringan rambutnya.  Dalam sekejap, aku bisa merasakan kepalaku mendidih ketika nalarku mulai runtuh.


"Jadi... kamu mau melakukannya atau tidak?"


Rin mendekat dan menaikkan sedikit rok mininya, memperlihatkan pahanya yang berwarna krem.  Kemampuanku untuk menolaknya telah menghilang pada saat ini.


"Ba-baiklah kalau begitu..."


Dengan itu, Rin mulai memanjakanku.  Aku dengan hati-hati memposisikan diriku saat aku perlahan meletakkan kepalaku di pahanya, seperti ketika aku sedang membuat rumah kartu.  Bagian terakhir dari nalarku menghendakiku untuk tidak menghadap perutnya dan malah melihat ke arah yang lain.


Astaga...


Aroma manis yang kucium adalah campuran softener dan aroma asli Rin.  Paha tipis Rin elastis dengan caranya sendiri, dan itu terasa seperti marshmallow.  Pipiku menjadi hangat karena panas dari roknya.  Jantungku berdetak semakin cepat.  Seluruh tubuhku mengeras sekeras mungkin.


"Apa kamu tegang?"


Aku mendengar suara Rin yang datang dari atas.  Aku bisa merasakan hatiku takut untuk meresponnya.


"Yah, sedikit."


"Begitu..."


Aku mendengar suaranya yang lembut berlanjut.


"Aku juga merasa agak tegang."


Aku bisa merasakan rasa malu dari suaranya.  Dia sangat imut.  Saat aku mengungkapkannya pada diriku sendiri, aku bisa merasakan diriku menjadi sedikit lebih tenang.  Yah, Rin mulai membelai kepalaku dan itulah yang membuatku lebih tenang.


"Apa ini... karena iseng juga?"


"Yah, siapa yang tahu."


Suara lembutnya mencapai telingaku saat dia menyisir rambutku.  Aku bisa mendengar gemerisik rambutku, saat ujung jarinya menelusuri rambutku.  Ini pertama kalinya aku berbaring di pangkuan seorang gadis dengan dirinya yang menyisir rambutku.  Cukup menyenangkan, tapi aku merasa sedikit tegang karena situasi ini masih sangat asing bagiku.


Aku mengingat kembali saat-saat dimana aku mengelus kepala Rin.  Wajah yang akan dibuat Rin, akhirnya aku mengerti sekarang.  Untuk beberapa saat, Rin terus membelai rambutku.


"Nah, nah."


Tiba-tiba aku mendengar sesuatu keluar dari mulut Rin saat aku merasakan tangannya mengarah ke dadaku.  Kata-kata hiburannya terus berlanjut.


"Jangan terlalu memaksakan diri."


Ahh...


Aku bisa merasakan dadaku perih, seperti tertusuk jarum kecil.


"Maaf telah membuatmu khawatir."


"Sungguh. Kamu seharusnya lebih menjaga dirimu."


Dengan itu, Rin mengelus kepalaku lagi.  Elusannya tampak lebih kasar dari sebelumnya.


"Apakah rasa lelahmu sudah berkurang sekarang?"


Bel peringatan lima menit berdering saat Rin menanyakan itu padaku.  Aku tidak ingin ini berakhir, jadi aku mengungkapkan isi hatiku.


"Aku ingin tetap seperti ini selamanya, ini sangat menenangkan."


Rin memberikan jawaban acuh tak acuh sebagai responnya.  Jawabannya mengecewakan, tetapi nada suaranya meyakinkan.


"Yah, jika Tohru-kun tidak keberatan..."


Rin berhenti, tetapi mulai berbicara lagi.


"Maka aku juga tidak keberatan melakukan ini lagi."


Aku secara refleks menelan ludah.


"Itu membuatku sangat senang."


Perasaan lega menyelimutiku, saat paru-paruku mengeluarkan nafas yang sedari tadi kutahan.  Aku akhirnya tetap berada di pangkuan Rin sampai kelas dimulai.


'Jangan terlalu memaksakan diri.'


Dengan mengingat kata-kata itu, aku terus menavigasi cara hidup yang asing ini.  Dibandingkan dengan kesehatanku sendiri, aku malah lebih mengkhawatirkan tentang status project baruku.  Meski aku sangat lelah, tapi di depan Rin, aku harus bersikap sesehat mungkin.


Tapi pada akhirnya, aku tidak bisa menipu Rin sama sekali.


Tiga hari kemudian, liburan musim semi sudah dekat, dan kami sedang berjalan pulang dari sekolah.


"Apakah tidak apa-apa jika aku mengunjungi rumahmu hari ini Tohru-kun?"


Tanpa diduga, aku mendengar Rin menanyakan hal itu padaku.